Kamis, 22 September 2011

PAGI; terlalu dini untuk sebuah tawa


dingin masih terasa saat fajar tiba
semburat jingga, ditimpa rintik gerimis pagi
tetesan air turun bergantian,
membuat titik-titik kecil di jalan berpaving
dan kita,, memulai pembicaraan ini

kita saling bicara,, memulainya dengan canda seperti biasa
tawaku, tawamu....gelak tawa di pagi itu seolah menjadi pertanda
takkan ada tangis dihari itu...
waktu berlalu, menit berganti, detak jam dinding terus bergerak
mungkin sudah saatnya canda itu terhenti
namun kita lupa untuk mengakhirinya
kata demi kata terlontar,
kita masih saja bercerita dan saling bergurau

sinar matahari masuk lewat jendela kamarku
diluar terang! hujan telah berhenti sejak tadi
cuaca begitu cerah dan hangat
tapi sepertinya keadaannya berbanding terbalik dengan pembicaraan kita
lalu tawapun berubah jadi bulir-bulir airmata.

26.08.2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar