SPMB Nasional membuat Kian
meninggalkan Bali, dan kembali ke Kota kelahiran ibunya. Kota kecil di Jawa
Tengah itu memiliki sebuah Universitas yang pernah dia dengar namanya
samar-samar. “gak ada salahnya dicoba.” Begitu jawab Kian waktu ayahnya
menanyakan kesediaannya untuk mengambil kesempatan itu.
Malam ini, malam terakhirnya di
Bali sebelum keesokan paginya dia harus menyebrangi Selat Bali dan meninggalkan
tanah kelahirannya. Meskipun dirinya bukan orang Bali asli, tapi Kian merasa
telah menyatu dengan Bali, kebudayaannya dan teman-temannya. Bahkan
teman-temannya yang asli Bali sering meledeknya dengan mengatakan bahwa dia
lebih bali dari orang bali itu sendiri. Jika diledek demikian, Kian hanya
tersenyum.
Kian menghirup udara malam itu
dalam-dalam. Suara debur ombak yang biasanya terdengar merdu justru membuat
hatinya perih. Untuk pertama kalinya Kian merasa sangat sedih. Meninggalkan
Bali adalah hal tersulit yang dia lakukan. Begitu banyak kenangan. Baginya,
Bali adalah hal yang luar biasa. Dengan pemandangan alam yang indah dan keramahan
penduduknya. Tidak hanya itu, hal yang membuatnya berat untuk meninggalkan Bali
adalah meninggalkan Ayu. Gadis asli Bali yang kini tengah berada disampingnya.
Menemaninya selama hampir 2tahun.
“Mas, ayu gak apa-apa ko...”
katanya. Ayu memang memanggil Kian dengan sebutan Mas karena orang tua Kian
keturunan jawa.
Kian menghembuskan nafas, lalu menatapnya.
Melihat ke dalam matanya. Mata yang bulat dengan bola mata hitam. Mata yang
membuatnya terpesona saat gadis itu tengah menari di Balai Desa 2 tahun silam.
Mata itu yang selalu menggodanya sampai pada akhirnya dia memberanikan diri
untuk menyatakan cintanya. Mata yang bening, dan selalu memancarkan kejujuran.
Dan sekarang, mata itu berkaca-kaca meskipun sorotnya masih tajam menatap lurus
ke arahnya.
Rambut panjangnya tertiup angin
pantai. Gadis ayu itu tersenyum, meyakinkan Kian bahwa dirinya akan baik-baik
saja.
“Yu, aku akan lama di sana.
Mungkin 4 tahun.” Kata Kian dengan nada terkecat. Ada luka di hatinya yang
seharusnya itu tak boleh terjadi. Kian pun tak mengerti, kenapa dia bisa
sesedih ini.
“pergilah Mas... Ayu ikhlas. Itu
semua demi kebaikan Mas Kian. Ayu akan baik-baik saja disini.” Katanya tegas.
Angin pantai malam itu bertiup
semilir. Suara debur ombak menjadi nada yang indah, tapi juga memilukan.
Perpisahan yang menyakitkan. Tapi harus dijalani. Kian menggenggam erat tangan
Ayu. Gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Kian. Langit hitam bertabur
bintang itu menjadi saksi perpisahan mereka.
***
Pengumuman SPMB Nasional udah
lebih dari seminggu. Sejak tahu bahwa dirinya tidak diterima di Akuntansi,
Kirana mengurung diri di kamar. Dia merasa dipecundangi oleh dirinya sendiri.
Dan yang membuatnya sebal adalah Daffa, kekasihnya yang baru beberapa bulan
dipacarinya itu justru diterima di Akuntansi. Berkali-kali ibu membujuknya
untuk keluar kamar, tapi Kirana masih juga ngambek.
“Kira sayang... keluar nak... ada
Daffa.” Ketuk ibunya perlahan
“gak mau! Suruh aja dia pulang!
Dia pasti mau ngejek aku!” teriak Kira dari dalam kamar.
Ibu keluar dan menemui
Daffa, “maaf Fa, mungkin sebaiknya kamu
pulang aja. Kira masih ngambek.”
“iya bu..” jawab Daffa.
Sepulangnya Daffa, ibu membuka
pintu kamar Kira dan masuk dengan perlahan. Anak gadisnya masih saja tidur
telungkup seraya menangis sesenggukkan. Koran yang berisikan pengumuman itu
terlihat kumal. Sebenarnya nama Kirana Yustisia Nugroho itu ada, tapi bukan di
jurusan Akuntansi, melainkan Hukum.
Ibu berjalan mendekat. Lalu duduk
disebelah Kira yang masih terus menangis.
“nak, itu semua takdir Tuhan.
Diterimakan saja. Itu akan membuat kamu lebih baik”
“aku....aku.....” suara Kira
terbata-bata dengan airmata yang terus mengalir.
“Tuhan telah menggariskan yang
terbaik untukmu. Hukum itu bukan jurusan yang jelek kan?”
“tapi...”
“dicoba dulu nak. Kalau memang kau
tak suka, tahun depan kan bisa ikut ujian lagi.” Kata ibu bijak.
Kira terdiam, dan dengan lemah
diapun mengangguk.
***
Setelah menempuh perjalanan yang
jauh dan melelahkan, sampai juga Kian di kota kecil di Jawa Tengah, Purwokerto.
Lama sekali dirinya tak menginjakan kakinya di kota itu. Terakhir dia kesana
adalah waktu nenek meninggal 7 tahun silam. Dilepaskannya pandangan keseluruh
penjuru terminal. Agak sedikit bingung karena ini adalah pertama kalinya dia ke
Purwokerto tanpa orangtuanya. Baru saja dia mengeluatkan HP dan memencet nomor,
tiba-tiba...
“ hai Kian... sudah besar
sekali.”
“ehh... pakdhe...” jawab Kian
dengan sedikit ragu. Pakdhe Joko yang dikenalnya dulu berbeda dengan sosok
lelaki yang kini berdiri di depannya. Lelaki itu berbadan gemuk.
“pakdhe juga. Makin gemuk.” Kata
Kian ramah
“hahahaha.... iya ian,
bener-bener. Makmur siki.” Jawab pakde sambil menepuk-nepuk perutnya.
Kian tersenyum. Lalu tak sengaja
matanya beradu dengan pemuda yang sejak tadi berdiri di samping pakdhenya.
“ini mas akbar pakdhe? Tanya Kian
ragu.
“kupikir kamu lupa Kian.” Kata
mas Akbar.
“engga mas...engga... Cuma tadi
sempat ragu” jawab kian jujur. Lalu keduanya berpelukan.
“wis, ayo cepetan. Ndang wengi
mengko.kesel tho kowe. Crita-critane dilanjutna mengko bae nang umah” Kata
pakdhe.
Kian mengangguk.
“ayo kian. Aku udah nyiapin kamar buat kamu.
Nanti kita akan banyak cerita. Gimana bali... waa... aku sampe mbayangin lho
bisa maen ke sana lagi. Oh ya.. kamu manajemen tho? Aku juga. Tapi ini tahun
terakhirku. Wes tenang aja. Nanti tak kasih tau dosen-dosen yang susah
nilainya. Oh ya, cewe-cewenya ayu-ayu lho. Kamu udah punya pacar blum?” repet mas Akbar. Kian Cuma senyum-senyum. Sekelebat,
bayangan ayu terlintas dibenaknya. “sedang apa kamu Yu?” bisiknya lirih sekali...
***
Belum jam 6 pagi, daffa sudah
berada di rumah Kira. Hari ini akan ada softskiil yang memang diwajibkan untuk
mahasiswa baru dan harus datang sebelum pukul 6. Awalnya Kira gak mau ikut,
tapi setelah dibujuk oleh Daffa, dia mau datang dengan syarat kalau acaranya
membosankan, mereka akan kabur.
Suasana kampus sangat ramai.
Padahal jam tangan Kira baru menunjukan pukul 6 lewat 10 menit. Hampir sebagian
dari mereka berjalan kaki. Mungkin mahasiswa dari luar kota dan sudah mulai kost.
Kira memilih duduk diteras gedung rektorat. Matanya masih mengantuk. Kalau saja
disebelahnya tak ada orang, pasti dia sudah duduk selonjor dan tidur.
“boleh kenal gak?” tanya cowo
yang duduk disebelah Kira
‘gak boleh.” Sahut Kira asal.
Cowo itu terlihat bingung. Kira tersenyum jahil.
“Kirana” jawab Kira sembari
mengulurkan tangan.
“Kian. Kamu darimana?”
“asli sini. Kamu?”
“Bali.” Jawab Kian
“Bali? Maksudmu? Pulau Bali?
Waaa..... seriuus???” suara Kira langsung berubah. Kantuknya mendadak hilang.
Bali itu kan pulau favoritnya. Dari SD Kira udah bermimpi bisa ke Bali dan akhirnya
kesampaian waktu studytour SMA. Dan sekarang, di sebelahnya ada cowo made in
Bali. Kira benar-benar surprise.
“iya serius. Emang kenapa?”
“ah engga. Cuma heran aja. Ko
bisa terdampar di Purwokerto?”
“SPMB Nasional. Tapi ibuku juga
orang sini ko.”
“ooh.... trus nama kamu siapa? I
putu Kian? Apa I wayan?” cerocos Kira
“aku Cuma kebetulan lahir dan
besar di Bali. Orangtuaku asli orang Jawa. Malah ibuku orang Purwokerto. Tapi
mereka udah lama tinggal di Bali. Jadi yaa namaku gak pake Putu, Wayan atau
Made. namaku Rizkian Ramadhan.” Jelas Kian
“oh... kamu islam. Kupikir
Hindu.” Kata Kira sambil tertawa “ambil jurusan apa?”
“manajemen. Kamu?”
“aku Hukum. “
Dan tanpa terasa mereka terlibat
dalam pembicaraan yang seru. Bahkan sampai acara berakhir, keduanya duduk
bersebelahan. Kira tanya banyak tentang Bali dan keinginannya kesana. Sedangkan
Kian, menjelaskan semua hal yang Kira tanyakan dengan semangat. Entah apa yang
Kian rasakan. Mungkin perasaan tertarik. Gadis itu penuh antusias dan
imajinatif. Dia berbicara kesana kemari seolah tak pernah lelah. Dan Kian menyukainya. Hanya menyukainya.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar